Sejarah Desa

Desa Inerie merupakan salah satu desa dari tiga belas desa yang ada di wilayah kecamatan Inerie yang mempunyai perkampungan adat, dan sering dikunjungi para wisatawan, baik asing maun lokal

Asal mula terbentuknya desa Inerie tidak terpisahkan dari sejarah terbentuknya Kecamatan Inerie dan Kecamatan-Kecamatan lain di Kabupaten Ngada yakni berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur tanggal II Peb 196I Nomor : Pem. 66/1/I Tentang Pembentukan 63 buah kecamatan dalam Propinsi Nusa Tenggara Timur maka Kabupaten Ngada dibagi menjadi 6 Kecamatan Yakni :
• Kecamatan Bajawa Utara
• Kecamatan Ngada Selatan
• Kecamatan Nage Utara
• Kecamatan Nage Tengah
• Kecamatan Keo
• Kecamatan Riung

Masa Swapraja Ngada, Inerie dibagi dalam I Hamente yaitu : Inerie 1 dan Inerie II. Inerie I mencakupi wilayah Paroki Jerebuu, sedangkan Inerie II mencakupi wilayah Paroki Maghilewa sampai dengan Heawea.
Undang – Undang No. 5 thn. 1975 dan Peraturan Pemerintah maupun PERDA saat itu, semua desa mengalami perubahan baik itu tata wilayah administrasinya maupun susunan organisasi kepemimpinan di tingkat desa. Maka Desa Inerie dibentuk suatu wilayah desa yang diberi nama DESA INERIE.
Dengan sasaran penduduk adalah masyarakat yang mendiami kampong Maghilewa, kampung Jere, Kampung Watu dan kampong Leke. Pelayanan administrasi pada waktu itu bertempat di Maghilewa yang dikepalai oleh seorang Kepala Kampung.

Dalam perjalanan Desa Inerie dimekarkan menjadi dua wilayah desa yaitu: Desa Inerie sebagai desa induk yang meliputi kampong Maghilewa dan kampong Jere. Sedangkan Desa Sebowuli sebagai pemekaran dari desa Induk Inerie. Desa Sebowuli meliputi kampong Watu dan kampong Leke. Pada tahun 1969 Desa Sebowuli dimekarkan lagi menjadi dua desa yaitu Desa Inerie yang juga merupakan bagian dari desa induk Inerie. Sampai dengan saat ini,terjadi perluasan pemukiman dan terjadi pemindahan pusat desa dari Maghilewa ke Malapedho. Sehingga Malapedho menjadi pusat pelayanan administrasi sampai dengan saat ini.

Jika mencermati lebih jelas, sejak pembentukan Desa Inerie dari desa gaya lama, desa gaya baru hingga saat ini, maka dapat kita catat beberapa kepemimpinan:
A. Tahun 1920-an berdiri kampong Maghilewa /Jere dengan kepala kampung Raga Meo
B. Tahun 1930-an, Kampung Maghilewa, dibawah kepemimpinan Albert Wele, Itu bernaung di bawah hamente Inerie II
C. Tahun 1930-an, Kampung Jere, dibawah kepemimpinan Lelo, Itu bernaung di bawah hamente Inerie II
D. Tahun 1950-an Kampung Maghilewa/Jere, dipimpin oleh Mathias Soba dibawah asuhan Hamente Inerie II sampai dengan tahun 1958.
E. Tahun 1958 sejak terbentuknya kabupaten Ngada, sesuai undang – undang no. 56 tahun 1958 sampai dengan tahun 196I, yang masih dengan sebutan desa gaya lama, desa Inerie sekarang dikenal dengan nama Desa Gaya Lama Inerie.
F. Tahun 196I sejak terbentuknya Desa gaya Baru, maka Desa Inerie disebut dengan nama Desa Gaya Baru Inerie, yang dipimpin oleh Rofinus Raga sampai dengan tahun 198I.
G. Tahun 198I sampai dengan tahun 1990, Desa Inerie dipimpin oleh Paulus Bhara.
H. Tahun 1990 sampai dengan tahun 2005, Desa Inerie dibawah pimpinan Adrianus Raga
I. Tahun 2005 sampai dengan tahun 2010, Desa Inerie dipimpin oleh Thomas Rato Wego.
J. Tahun 2011 sampai dengan tahun 2016, Desa Inerie dipimpin oleh Philipus Tuga.
K. Tahun 2016 sampai dengan tahun 2018, Desa Inerie dipimpin oleh Oscar Toka, SE
L. Tahun 2019 sampai dengan tahun 2022, Desa Inerie di pimpin Oleh Benediktus Millo
M. Tahun 2023 sampai dengan tahun 2025, Desa Inerie di pimpin Oleh Ferdinandus Ria